Into The New World (Two Shot)

Title:  Into The New World

Author :Lee hyora

Pairing: Haewook

Cast : Ryeowook, Donghae, Eunhyuk, Leeteuk

Rated: T

Genre: Friendship, Romance, Fantasy

Warning: Yaoi fanfiction. Typo. If you don’t like, don’t read.

_haewook_

No one care.

No one.

Do you know how that feels?

Kamu Tahu bagaimana rasanya?

Ketika kamu ditinggal pergi oleh orang yang sangat kau cintai?

Kamu tahu bagaimana rasanya?

Ketika orang yang kau harapkan kehadirannya saat kau jatuh,

justru membiarkanmu.

Terpuruk, di sudut bagaikan seoonggok benda tak bernilai.

Kamu tahu rasanya?

Ketika tak ada satupun yang memperdulikanmu?

No one care about you. Your existence.

_haewook_

 

Namja itu tebangun dari tidurnya. Yang entah sudah berapa lama. Kedua bola matanya bergerak cepat dibalik kelopak matanya yang masih tertutup rapat. Satu tangannya terangkat ke atas menutupi sinar matahari yang memaksanya terbangun. Susah payah ia mendudukkan dirinya dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Entah kenapa, rasanya ia lelah sekali. Seluruh tubuhnya terasa sakit, punggung, pundak, lengan, semuanya. Seperti terbangun dari tidur berpuluh-puluh tahun. Nafasnya yang tak beraturan menandakan keletihan yang luar biasa. Ia tersenyum tipis. Rasa sakit itu masih membakar hatinya. Menyakitinya dari dalam. Namja bermata sayu itu memegangi dadanya, menghilangkan sakit yang sejak kapan membunuhnya dari dalam.

Angin yang bertiup pelan, menyapa wajahnya lembut, meniup pelan beberapa helai surai yang menutupi matanya. Menyadarkan namja itu dari lamunannya beberapa detik yang lalu. Ia membuka mata lebar kali ini. Sadar ada dimana ia sekarang.

 

_haewook_

To your world, taken by the soft wind
You asked me brightly, Where I came from to your side?
And I told you that it was a secret
Wherever we walk together

Wherever we go, it’ll be heaven

 

_haewook_

Sakit?

Ia sudah tidak tahu lagi apa yang sedang ia rasakan.

Terlalu lama bergulat dengan kesakitan, membuatnya mati rasa.

Tangannya bergetar.

Ia terus menancapkan pecahan kaca di urat nadinya.

Menggeseknya pelan.

Berharap itu bisa mengurangi semua derita yang ia rasa.

Air mata itu, terjatuh bebas dari pupilnya tanpa ada keinginan untuk menahannya.

Tidak setelah sekian lama ia menahannya, yang hanya membeku dan menjadi belati tak kasat mata yang dengan senang hati mengoyak jiwanya.

Cairan itu kembali menetes. Tidak. Kali ini warnanya berbeda.

Warna merah darah itu berlarian keluar dari tubuhnya, merembes memenuhi porcelen licin di bawahnya. Membawa semua nyawa hidupnya pergi.

Ia tersenyum. No one care.

Disaat gelap mengambil alih hidupnya

Bahkan ia tidak tahu lagi untuk apa ia tersenyum. Ia hanya ingin menghilang.

Vanish.

_haewook_

 

Bagai senandung musik di pagi hari, angin lembut meniupkan siulan di telinganya. Melewati tubuhnya. Seolah membawanya terbang. Namja itu sudah terlalu jauh berjalan dari tempatnya terbangun tadi. Tapi pemandangan di depannya seolah tetap sama. Ia membuang pandangan sejauh yang ia bisa. Namun hanya ada hamparan bunga dengan warna-warna berbeda yang bisa ditangkap mata sayunya.

Ia terkikik pelan. Halusinasi. Namja itu bergumam pelan. Bagaimana bisa ia berpikir langitpun seolah berwarna hijau keemasan di padang rumput dimana ia berdiri sekarang.

Namja yang sebenarnya cukup tampan itu membalikkan badan 180º, mencari hal lain yang bisa diamatinya. Mencari tahu dimana ia sekarang.

Apa ini surga?

Tebaknya.

Tidak, tidak mungkin surga bisa terasa tak asing baginya. Ya. Satu hal yang menggelitik ingatannya adalah, bahwa ia pernah ditempat itu sebelumnya.

Dengan menggeret paksa kedua kakinya yang sudah mulai lelah, namja itu terus berjalan. Kali ini bukan sekedar padang rumput biasa yang ia lewati, tapi jalan menanjak seperti bukit kecil yang ia lalui. Tanjakan kecil yang jujur menguras sedikit tenaganya. Tak bisa dipungkiri ia ingin berhenti, tapi rasa penasaran akan keberadaannya di tempat yang ia tidak ketahui membuatnya melakukan perjalanan itu. Yang dia sendiri pun tak tahu sudah sejauh mana.

Keringat bergelincir pelan di samping pelipisnya. Aneh memang karena udara cukup sejuk meskipun matahari membayangi setiap langkahnya. Namun angin terus menemaninya, meniup surai dan seakan menghapus peluh yang muncul kembali setelah ia hapus dengan punggung tangannya.

Tak jauh lagi. Pikirnya. Ia akan berada di atas puncak bukit kecil itu. Ia menengadahkan kepalanya keatas. Satu tangannya refleks menutupi silau matahari yang tepat mengarah ke wajahnya. Siluet benda berayun seirama tiupan angin, ke kanan dan ke kiri menarik perhatiannya dari celah jemarinya.

Sebuah pohon besar nan rindang berayun di depan sana. Pohon apel?

Namja tamapn berambut hitam legam itu tertawa sarkatis, tak pelak ia mengedarkan lagi pandangan ke segala arah. Hanya ada satu phon besar itu disana. Lucu pikirnya.

Dan kenapa harus pohon apel?

Ia mengelengkan kepala. Itu bukan hal yang penting menurutnya. Namja yang biasa disapa fishy oleh teman-temannya(?)— pun kalau dia punya—itu bergegas mendaki lebih cepat lagi. Ingin segera berteduh dan mengistirahatkan tubuhnya di bawah pohon besar dengan beberapa puah apel yang berserakan di sampingnya. Mungkin jatuh tertepa angin. 

Tak menunggu lama, namja dengan senyum menawan itu menjatuhkan tubuhnya tepat dibawah pohon apel besar itu. Punggungnya ia sandarkan pada batang pohon yang sedikit berlumut. Dan mungkin sudah beratus tahun ada ditempat itu. Namja itu menghela nafas lelah. Sekali lagi bola mata kecoklatannya bergerak menyapu pemandangan di depannya.

Tersenyum.

Kalau boleh jujur. Tempat dimana ia berada sekarang nampak begitu indah. Ia masih bisa melihat bunga berwarna-warni di tempatnya terbangun tadi. Tidak terlalu jauh ternyata. Bunga-bunga itu, dan rumput hijau di depan sana bergerak melambai kepadanya.

Lagi. Ia tersenyum yang mungkin sudah beberapa kali ia lakukan seharian ini.

Hal yang tidak biasa ia lakukan.

Angin masih setia mendampinginya. Memelukknya. Ia ingat tempat ini, pohon yang menjadi sandarannya sekarang. Pohon apel itu. Ah, ia ingat sekarang.

Namja itu membelai batang kasar pohon itu. Jarinya bergerak mengikuti setiap alur guratan disana. Ia pernah beada ditempat itu sebelumnya. Di dalam mimpinya.

Sedikit perasaan lega dan hangat menyeruak di dalam tubuhnya. Bukan sekedar hangat. Tapi semakin panas. Air mata kembali membasahi matanya, lalu turun bebas melawati tulang pipinya. Sekuat apapun ia menahannya, rasa sakit itu masih ada. Disana, ia, membuat lubang hitam di dalam hatinya. Walau senyum menyungging di wajah tampannya, senang karena bisa berada di tempat yang ia mimpikan, tapi tetap saja…..

Hampa.

Sehampa langit kosong dihadapannya.

_haewook_

I call out to you as much as it reaches the sky
I draw out my heart, that is as deep as the ocean
If a single whisk of wind is to stay for a bit before leaving
Please tell my beloved about me

_haewook_

 

.

.

.

.

Dimana ini?

Apa aku tertidur lagi?

Sejak kapan?

Ia terus bertanya di alam bawah sadarnya.

Kedua kelopak matanya masih tertutup, tapi itu tidak mengurangi ketajaman inderanya yang lain. Sentuhan dingin terasa membelai pipinya, membuatnya terjaga dalam sekejap saja. 

Ia memegangi sisi wajahnya, yang ia yakini baru saja mendapat sentuhan lembut entah dari siapa, atau apa?

Mungkin angin?

Ingin ia tertawa geli mengingat angin yang terus mengikutinya sejak…

ah, ia teringat dimana ia tekahir kali berada.

Ia bangkit dari tempatnya tertidur.

Kali ini bukan pada sebatang pohon atau dataran penuh bunga. Bukan.

Kedua kakinya dengan payah berusaha berpijak di tanah dengan kuat agar tak limbung dan terjatuh. Mengingat ia baru saja bangun dari tidur. Namja itu memegangi tengkuknya, lelah dan sakit. Walau ia sekarang tahu ia tertidur dengan nyenyak sedari tadi pada sebuah tempat tidur yang bisa dibilang empuk—ya, jika kau bandingkan dengan kerasnya tanah.

Namja itu mengedip-ngedipkan mata, memperjelas pandangannya. Ia menyapukan pandangan pada semua yang ada di depannya. Tempatnya terbangun kali ini benar-benar berbeda dari yang sebelumnya.

Sadar kini ia berada di dalam sbeuah pondok kayu, dengan beberapa benda usang seperti tempat tidur di depannya, kursi kayu di depan sebuah meja makan kecil tanpa tersaji apapun diatasnya. Beberapa perabotan yang terlihat biasa saja.

Penasaran, ia menggerakkan kaki berniat menjelajahi pondok kecil itu. Aroma sedap mengusik penciumannya. Dan tentu saja terdorong rasa lapar ia mengikuti aroma itu. Sebuah dapur kecil dengan tungku api yang menyala, membakar ranting-ranting kecil dpelukannya. Api dan ranting-ranting itu menghangatkan sesuatu di dalam periuk besi yang entah isinya apa.

Rasa lapar itu seolah membunuhnya, tapi ia menggendalikan diri saat sadar ia mungkin berada di dalam pondok yang pasti dimiliki oleh seseorang.

Ya. Dengan cepat ia memutar tubuh mencari pintu untuk keluar dari pondok itu. Mencari siapa yang telah membawanya ke tempat asing itu.

Setengah berlari namja itu mengikuti cahaya matahari sore di depannya, yang menerobos masuk ke dalam pondok melalui sebuah pintu yang seolah bercahaya—memanggil namja itu mendekat. Tak memperdulikan sengatan cahaya emas menyilaukan yang menerpa matanya, ia menajamkan pandangan.

Lagi. Ia terbelalak mengetahui dimana ia sekarang.

Deretan pohon menjulang tinggi mencakar langit berbaris dihadapannya. Dengan daun-daunnya yang rimbun, mereka, menghalangi sinar matahari sore. Yang jujur saja masih bisa dilihat oleh namja bertubuh kurus atletis yang tengah berdiri di ambang pintu pondok kayu itu.

Ia tak ingat berjalan hingga sejauh itu. Tak ingat sudah memasuki pinggiran hutan dengan jalan setapak yang cukup gelap—mengingat ini masih sore. Tepat di depan pondok, tersedia jalan berbatu yang sepertinya sengaja dibuat oleh penghuni pondok itu untuk memudahkan jalan.

Dengan perasaan sedikit gelisah, ia memajukan satu kakinya ke depan. Siap memulai kembali perjalanan yang bahkan ia tahu untuk tujuan apa. Dan kemana?

Ia menatap kembali pondok di belakangnya setelah melangkah beberapa saat. Juga melihat hutan di depannya. Bagaimana jika ia tersesat di dalamnya.

Lagipula senja sudah mulai hilang perlahan digantikan langit malam. Apa ia harus menunggu si pemilik pondok itu datang?

Memikirkan seperti apa seseorang yang dimaksud pikirannya itu membuatnya berpikir lagi. Bagaimana jika dia bukan orang baik? Bagaimana jika…?

Aish…pikiran-pikiran tak pasti itu berputar di otaknya. Karena memang tak banyak membantu.

Akhirnya ia putuskan untuk berdiam diri di belakang pondok kayu itu sambil terus mengawasi sekitar. Malam sudah mulai beranjak dari peraduannya, memperlihatkan kuasanya lagi. Sepenuhnya. Mata sayu namja itu tanpa sadar menatap kosong ke depan. Tak pasti apa yang sedang ia pikirkan, karena lelehan air mata kembali nampak di sudut matanya.

Apa ia selemah itu?

Bahkan menatap rembulan yang menggantung di atas sana, di balik pepohonan yang bergesakan bisa membuatnya kembali menangis.

Tanpa ia tahu, ia memeluk kedua kakinya di dekat dadanya. Menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut kakinya.

Malam tak pernah sesunyi ini pikirnya.

Tak pernah ia pikirkan akan berdiam diri di dalam hutan sendiri hanya ditemani angin malam di sekitarnya. Walau kesendirian dan kesepian adalah temannya sejak lama. Namun malam ini begitu berbeda.

Ia ingat kembali setiap detik yang ia habiskan untuk melamunkan kedua orang tuanya. Sebisa mungkin ia mengingat kedua wajah orang tua yang membawanya ke muka bumi ini, lalu meninggalkannya sendiri saat baru menginjak umur tujuh tahun.

Namja itu kembali sadar dari dunia lamunannya, saat mendengar suara langkah seseorang mendekatinya dari samping. Menepuk pelan pundaknya yang bergetar kaget.

“Kau sudah bangun?” Suara itu berasal dari seorang namja manis yang tengah menatapnya tersenyum. Ragu dengan apa yang harus ia ucapkan, namja itu mengangguk pelan.

Ia memberanikan diri menatap lagi lawan bicara di depannya yang masih mengembangkan senyum tulus. Tak ada sedikit pun bayangan di benaknya jika namja yang akan di temuinya di tengah hutan itu adalah namja berparas semanis itu.

“Ryeowook. Aku Ryeowook. Kau?” Namja berwajah malaikat—pikir si namja penyuka ikan itu, seolah-olah ia pernah melihat wujud malaikat yang sebenarnya—mengulurkan tangan padanya. Tangan putih Ryeowook masih mengulur pada namja di depannya. Menunggu balasan.

“A-aku, Donghae. Lee Donghae.” Ucapnya bergetar.

Susah sekali mengeluarkan sepatah kata setelah mungkin seharian ini ia tak berbicara pada siapapun.

Namja kecil itu berbalut kan hoodie merah sedikit kebesaran menutupi tubuhnya, dan celana kain panjang, juga sepasang sepatu penuh lumpur di kakinya. Merasa diperhatikan, Ryeowook berbalik tersenyum kepada Donghae.

“Masuklah. Aku akan menyiapkan makan untukmu. Kau laparkan?” Tanpa basa-basi Ryeowook mengajak Donghae masuk ke pondoknya yang gelap itu. Donghae hanya mengangguk melihat Ryeowook dengan cekatan menyalakan penerangan di pondoknya.

Ada sesuatu yang bergeliat di dalam perut Donghae. Suara manis Ryeowook, juga adalah suara pertama yang ia dengar seharian ini selain hembusan angin di telinganya. Suara yang sangat nyaring, lembut dan…

Donghae menggelengkan kepala cepat. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Ryeowook yang melihat Donghae memukul kepala dengan sudut matanya, terkikik pelan.

“Kau tahu? Sudah hampir dua hari kau tertidur…” Ryeowook meletakkan gelas yang terbuat dari kayu di depan Donghae. “Aku pikir, kau tak mau dan takkan bangun lagi.” Lanjut Ryeowook serius.

Donghae melebarkan matanya mendengar pernyataan Ryeowook. Ia benar-benar tak sadar sudah tidur selama itu.

Sejak kapan ia jadi tukang tidur.

Donghae mengambil gelas berisi air putih yang di berikan Ryeowook tadi. Meminum isinya habis. Menenggalamkan segala pernytaannya yang lebih tertuju pada dirinya sendiri.

Kenapa bisa tertidur selama itu?

“Kau pasti lelah sekali.” Tambah Ryeowook. Namja itu duduk di depan Donghae seraya memberikan setengah makan malam nya pada Donghae.

Donghae menatap piring di depannya.

“Daging kelinci.” Ryeowook menggidikkan bahunya. “Hanya itu yang tersisa dari persediaanku hari ini. Makanlah…”

“Kau…sendirian disini?” Donghae memberanikan diri bertanya. Penasaran lebih menguasai pikirannya. Bagaimana bisa namja semanis itu bisa berada dalam hutan gelap itu sendirian.

“Humm..” Ryeowook ber-hum ria sebagai balasan karena mulutnya penuh dengan makanan. Donghae menatapnya tak percaya.

“Dan aku senang sekali karena hari ini aku punya seorang tamu.” Ryeowook tersenyum menatap Donghae tepat di bola mata Donghae. Menjelajahi dan membaca pikiran Donghae. Donghae hanya membalas tatapan lembut itu dengan terdiam. Membiarkan kehangatan orang asing di hadapannya itu mengaliri tubuhnya.

.

.

.

Malam itu, akhirnya dihabiskan Ryeowook dan Donghae untuk menatap langit yang bertaburkan bintang. Berkedip memanggilmu, memenuhi langit dengan sinar kecil mereka. Bagai sebuah festival—yang pastinya takkan kau saksikan di langit kota.

Tak memperdulikan dinginnya angin malam menyentuh kulit.

“Polaris…” Gumam Ryeowook dengan mata tetap memandang ke atas. Donghae melihat Ryeowook dengan ekor matanya, kini mengikuti arah yang ditunjuk Ryeowook. Tangan namja kecil itu menunjuk ke atas sana.

“Kau mungkin melihatnya berada diatas sana, sendirian, berjauhan dengan bintang yang lain.” Ryeowook terdiam sejenak lalu melanjutkan kalimatnya. “Tapi jika kau amati dengan baik, dia tak sendirian, bahkan jika memang seperti itu, dia tak takut dengan kesendiriannya.”

“Kau tahu kenapa?” Ryeowook memiringkan kepala, kali ini menatap Donghae lekat. “Karena disanalah letak keistimewaannya. Ia tak takut dengan kesendirian, bahkan ia dengan semangat tetap bersinar di langit gelap, menunjukkan keindahan yang tak dimiliki bintang yang lain.”

Lirih Ryeowook tanpa berkedip.

Polaris.

Bintang utara, bintang paling terang, yang akan selalu muncul, dimanapun kau berada. Donghae pun ikut memandangi bintang yang memamerkan kecemerlangannya diantara banyaknya bintang dalam rasi beruang kecil itu.

Ryeowook benar.

Polaris itu sendirian diatas sana. Tapi tak benar-benar sendiri. Mungkin hanya sebagian orang yang menganggapnya seperti itu. Mungkin juga sang polaris sendirilah yang membuat dirinya seolah-olah kesepian diatas sana. Padahal nyatanya, jika kau lihat dengan seksama. Bintang yang lain akan bermunculan di sekitarnya.

Lihat saja, jajaran bintang biduk dan cassiopeia di sekitarnya.

Mempertegas keberadaanya di jagat raya ini. Terlebih lagi dengan cahayanya yang bahkan mungkin lebih terang dibandingkan matahari. Ya, hanya saja jaraknya yang terlalu jauh, maka manusia di bumi mungkin sedikit yang menyadarinya.

“Kau seperti bintang itu Donghae hyung.” Ryeowook memberi penekanan pada kata ‘hyung’ yang keluar dari bibir kecilnya. Sedang Donghae mentap nya heran. Pertama, karena ia tak ingat memberitahukan kepada namja kecil disampingnya tentang umurnya. Kedua, baru kali ini ada seseorang yang menyamakan dirinya dengan sebuah bintang paling termahsyur itu.

Polaris.

Ryeowook tersenyum sebelum kembali masuk ke pondok kecilnya. Meninggalkan Donghae yang tengah kebingungan.

 _haewook_

Just help me!
take me from this never ending darkeness

 _haewook_

Ini tak cukup.

Bahkan hingga darah terus mengalir, jantung ini tak mau berhenti.

Hasil karya di persendiannya terus mengalirkan darah. Jika ingin mengakhiri semua, itu bukan jalan yang bagus.

Apa harus kutusuk saja jantung ini, agar terdiam, berhenti berdenyut selamanya?

Apa harus aku mengantung diri di jembatan ini?

atau…

Namja itu…melihat lurus ke bawah.

Angin berderu keras, menerpa tubuh kurusnya. Angin kencang yang bisa dengan mudah menerbangkannya.

Ia berdiri di atas pembatas jembatan, di bawahnya laut hitam siap menerima tubuhnya kalau-kalau ia nekat jatuh.

Ia meringis, akan jadi apa ia jika ia terjun bebas dari sana.

Ini…ini, bukan saatnya  untuk berpikir, Lee Donghae.

Kau tahu?

Mati…tidak semudah yang kau bayangkan!!

_haewook_

Senandungan merdu dari bibir merah Ryeowook menyadarkan Donghae. Ia tak tertidur kali ini. Hanya sedikit melamun. Membayangkan sesuatu yang entah apa. Memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya ia pikirkan.

“Apa ini surga?” Donghae ingat ia mencoba untuk menghentikan hidupnya. Bukan hanya sekali atau dua kali.

“Hmm?” Ryeowook berhenti bersenandung, berkata tanpa menatap Donghae. “Memangnya…hyung merasa pantas masuk surga?”

Ryeowook terkikik melihat reaksi kaget Donghae karena ucapannya. Mata sendunya membulat. Donghae tersenyum malu, menunduk dengan terus menggelengkan kepala.

Namja itu sama sekali tidak merasa pantas berada di tempat yang banyak orang ceritakan sebagai tempat terindah itu.

“Kalau begitu, ini bukan surga. Jelas bukan, hahaha…” Tambah Ryeowook dengan tawa keras. Namja berambut kecoklatan itu meneruskan aktifitasnya memunguti buah-buahan yang terjatuh dari pohonnya. Apel.

“Favoritmu hyung…” Ryeowook melempar apel itu ke arah Donghae yang ditangkap dengan sigap. Donghae menatapnya untuk beberapa saat sebelum menggigit sebagian sisi buah itu. Donghae tersenyum. Baru beberapa hari saja dia bersama Ryeowook, namja yang bertubuh lebih kecil darinya itu mengetahui sebagian diri Donghae.

Apa yang Donghae suka, apa yang ia tidak suka. Tanpa ia perlu repot-repot menceritakannya.

Ryeowook bilang, dia adalah seorang pengamat.

“Kalau ini bukan surga, lalu ini dimana?” Donghae mengamati sekitarnya, tampat ia dan Ryeowook berada sekarang. Di depannya danau biru berkilauan terpapar sinar matahari. Angin pelan bertiup berdansa bersama rumput-rumput liar yang mengelilingi tempat itu.

Donghae duduk dengan mencelupkan sebagian kakinya ke dalam air, menikmati pemandangan yang tersaji di depan matanya. Air dingin danau itu memijatnya dengan aliran arus danau yang pelan. Tak jauh dari tempatnya duduk, ia bisa melihat lembah berbunga. Sederetan bunga lili dan tulip menari-nari disana. Merah, kuning, hijau. Warna-warna yanga cantik.

Di belakangnya terdapat hutan lebat sebagai pelindung mereka dari dunia luar, hutan yang mereka lewati untuk menuju danau tersebut.

“Hanya sebuah danau di pinggir hutan yang tak pernah terjamah manusia hyung, uh— ya, kecuali kita berdua.” Jawab Ryeowook tanpa melihat ke arah Donghae, sibuk memetik buah berry di yang tumbuh liar disana. “Memangnya kenapa hyung?”

Donghae menggeleng, takjub dengan semua keindahan yang tak pernah ia temui sebelumnya. “Kalau ini surga, apa kau berpikir aku ini malaikat?” Ryeowook akhirnya duduk disamping Donghae yang bergeming. Menunjukkan keranjang penuh buah berry pada Donghae. Donghae mengangguk, sebagai tanda bahawa ia juga menyukai berry.

Ryeowook tersenyum puas membayangkan selai blueberry buatannya lumer di dalam mulutnya. Hmm….

“Ehmm…” Donghae menatap Ryeowook sekarang. Namja manis itu— kalau tiak mau dibilang cantik, memliki mata yang indah, berkilauan memancarkan kejujuran. Hangat, membuat Donghae tenggelam di dalamnya. Hidung mancung Ryeowook, bibir mungilnya yang tak pernah berhenti bersenandung. Kulit bersihnya yang bercahaya. “Kau terlalu cantik untuk disebut sebagai manusia biasa Ryeowook-ah.” Papar Donghae.

Ryeowook mendengus,”Apa kata cantik di tempat asalmu juga bisa ditujukan untuk seorang namja??”

Ryeowook bangkit dari duduknya. Hari sudah mulai siang mereka harus kembali ke pondok. Diikuti Donghae dengan menahan senyum karena reaksi kesal Ryeowook tadi.

Namja yang setahun lebih tua dari Ryeowook itu menarik lengan kemeja yang menutupi tangannya. Guratan pecahan kaca di pergelangannya masih terlihat jelas. Lukanya belum juga hilang. Donghae menatap punggung Ryeowook lekat yang berjalan menjauh dari matanya.

Luka itu benar. Dan nyata. Bayangan saat ia melemparkan tubuhnya ke laut hitam pun masih membekas. Jika ia belum mati, apa Ryeowook yang menyelamatkannya?

Tapi kenapa?

Ia masih berpikir mati itu lebih baik. Walau di dalam hatinya, ia merasa beruntung bertemu dengan Ryeowook. Di tempat yang tak ia kenali itu.

Sekali lagi Donghae menyapukan pandangannya. Menikmatinya. Jika ia mati, mungkin ia takkan berada disana.

 _haewook_

 

“Ini rumah baru mu sekarang, Donghae.” Donghae kecil menatap gusar namja di depannya. Namja berlesung pipi itu sama sekali tak tersenyum padanya.

Park Jungsu, itu namanya, tapi ia lebih senang dipanggil dengan nama Leeteuk. Nama yang tumbuh besar bersamanya di atas panggung. Seorang pianis muda yang terkenal dengan kelincahan jemari yang menari diatas keyboard.

Sepupu Donghae.

Donghae yang baru saja kehilangan orang tuanya harus tinggal bersama namja yang berbeda usia 10 tahun dengannya itu.

“Kamarmu ada diatas.” Donghae mengangguk, segera melangkahkan kaki ke kamarnya.

“Ingat. Mulai besok, setiap jam 07.45 kau harus bangun. Kau tak lagi bersekolah di sekolah lama mu. Aku—hm, hyung sudah memanggilkan seongsaenim untuk mu belajar di rumah.” Leeteuk buru-buru membetulkan kalimatnya, tak terbiasa dengan panggilan hyung untuknya sendiri.

Home schooling? Tanya Donghae dalam hati.

Kenapa ia harus berhenti dari sekolahnya. Itu satu pertanyaan yang Donghae ingin tanyakan pada hyung yang jarang seklai ada di rumah bersamanya itu. Tapi Donghae tak berani menyankannya. Ia hanya bertemu Leeteuk di saat jam makan malam, atau saat melatihnya memainkan piano.

Sama sepertinya, Leeteuk ingin menjadikan Donghae pianis ternama.

“Sudah waktunya berlatih, Donghae.” Tegur Leeteuk datar. Donghae menunduk, berhenti melihat ke arah luar dimana anak sebayanya bermain riang di bawah hujan.

“Kau tidak akan menjadi apa-apa jika hanya bermain seperti mereka.” ucap Leeteuk meninggalkan Donghae menuju ruang latihan.

Setiap pukul 12.00 siang tepat, Donghae selalu berada di ruangan tersebut. Ruangan paling besar di rumah Leeteuk, yang bahkan melebihi besar kamar tidur Donghae. Di tengahnya terdapat sebuah grand piano yang sudah ada bahkan sejak Leeteuk berumur 8 tahun.

Sebuah sofa dan meja kecil tak jauh dari piano tersebut untuk menikmati permainan piano. Bar kecil untuk menjamu tamu. Dan sebuah meja catur di pojok ruangan tempat Leeteuk menghabiskan waktu saat malam tiba dengan rekannya yang datang berkunjung. Tak banyak, Donghae saja bisa mengingat mereka semua.

Juga ada rak buku yang mengelilingi ruangan. Buku-bukunya tertata sesuai jenis buku dan berdasarkan alphabet.

Leeteuk adalah seorang remaja yang penuh disiplin, itu adalah ajaran yang ia terima sejak kecil. Ia tak suka setiap waktunya terbuang percuma. Namja bertubuh tegap itu selalu hidup teratur. Dan rapi.

Itu juga hal yang ia tularkan—bahkan sedikit memaksa—pada Donghae. Tak mau Donghae terus terpuruk dengan kesedihannya.

Ada satu alasan kenapa ia melarang Donghae bermain dengan teman seusianya, apalagi tanpa sepengetahuannya. Hal yang membuat Donghae menanam benci pada keluarga satu-satunya itu. Tapi Donghae tak berani melawan.

Leeteuk sudah menetapkan bahwa jam 08.00 malam Donghae harus sudah berada di dalam kamarnya. Leeteuk akan berkali-kali mendatangi kamar Donghae memastikan Donghae tak tidur di atas jam 09.00 malam.

Setiap malam, saat Leeteuk tak lagi mengawasinya. Donghae berdiam diri di kamar. Menangisi kedua orang tuanya. Ia sudah berumur 10 tahun sekarang, namun sama sekali tak bisa melupakan kejadian yang merenggut nyawa mereka.

 _haewook_

“Mimpi buruk lagi, hyung?”

Donghae terengah di suatu pagi saat terbangun dari tidurnya. Mimpi buruk yang terus berputar bagai sebuah film.

Donghae hanya mengangguk menerima segelas air yang disodorkan Ryeowook. Ia menatap Ryeowook yang berdiri di samping ranjangnya, mengawasinya.

“Bangunlah hyung, ayo kita makan.” Ajak Ryeowook setelah menenangkan Donghae. Bau sedap tercium dari arah dapur di pondok kayu milik Ryeowook itu. Pondok kayu yang tak begitu besar, hanya ada beberapa ruangan di dalamnya. Kamar tidur Ryeowook—yang sekarang juga menjadi kamar Donghae, dapur dan kamar mandi.

Ryeowook pandai sekali memasak, membuat Donghae tak sanggup menolak makanan apa saja yang disodorkan Ryeowook padanya. Meskipun aneh dan baru kali ini Donghae memakannya. Seperti pagi ini.

“Hyung, apa kau pernah makan daging rusa sebelumnya?” Donghae menatap meja makan di depannya. Di atasnya tersaji olahan dari daging rusa.

Mungkin rasanya tidak akan berbeda dengan daging pada umumnya, tapi, untuk kali pertama ini Donghae benar-benar memakannya. Donghae hanya mengangguk, tak baik kan menolak makanan. Mungkin jika Ryeowook menawarinya daging naga atau darah beruang, Donghae pun akan memakannya.

“Dari mana kau mendapatkannya?” Tanya Donghae takjub yang dibalas tatapan aneh dari Ryeowook.

“Hyung… kau lupa? kita sedang ada di hutan. Mungkin hampir ada ratusan rusa di tempat ini.” Mata Ryeowook berkilat melihat santapan di depannya. Sudah lama sekali ia tak makan daging. Yang membuat Donghae terkiki geli.

“Maksudku, apa kau menangkapnya sendiri?” Donghae mencicipi sedikit daging rusa di depannya.

“Hmm…aku menjebaknya semalam. Rusa malang, aku harus memasukkannya ke dalam perut, keke…” Jelas Ryeowook disela-sela makannya sambil tertawa puas. Donghae menggeleng melihat tingkah Ryeowook. Sesaat ia bisa jadi seorang penyayang yang mengobati seekor burung yang terjatuh, atau melepas kupu-kupu yang terjebak dijaring laba-laba. Tapi kemudian ia bisa berubah sadis dengan memakan hewan liar yang dilihatnya berkeliaran di depan mata.

Kedua mata Donghae tak lepas memandangi Ryeowook. Namja di depannya begitu lepas dan bebas. Begitu Berani—mengingat ia hidup sendiri di dalam hutan. Satu hal yang menggelitik pikiran Donghae, darimana asal bocah di depannya kini?

Kau pasti berbohong jika kau bilang kau bukan malaikat, Ryeowook-ah. Gumam Donghae dalam hati. Ah—tidak saat sedang dengan nikmatnya memakan buruannya. Atau mungkin di langit sana para malaikat memang suka memakan daging rusa. Pikir Donghae, tersenyum. Ikut menikmati makanannya.

“Kau tak mau pulang hyung?” Tanya Ryeowook suatu waktu saat sedang membersihkan panah berburunya. Donghae berdiri di sampingnya sambil sesekali membantu Ryeowook. Seperti itu sudah menjadi tugasnya selama hampir seminggu lebih ini tinggal bersama Ryeowook. Hanya itu yang bisa ia lakukan, selain menemani Ryeowook berburu dan mencari buah untuk makan mereka.

“Kau…ingin aku pergi dari sini?” Jawab Donghae terbata. Ia tak mau pulang.

“Aniya…aku senang hyung ada disini. Tapi…” Ryeowook menolehkan kepala melihat Donghae. Melihat Ryeowook serius. “Apa hyung tak merindukan tempat hyung berasal?”

Donghae menggeleng. Takkan ada yang merindukannya.

 _haewook_

Donghae tersenyum lebar melihat beberapa teman yang dulu sering bermain dengannya berlarian kesana-kemari. Asyik bermain hingga melupkan waktu. Sedangkan dia, terkurung di dalam rumah megah milik Leeteuk. Terlebih lagi karena sekarang adalh waktu nya ia berlatih piano.

Jam masih menunjukkan jam 11. 45, masih ada waktu beberapa menit seblum latihan di mulai.

Diantara beberapa anak laki-laki yang terlihat tak ada bedanya karena memakai seragam yang sama itu—berdiri seorang namja yang seumuran dengan Donghae, tertawa melihat teman-temannya yang lain.

Lee Hyukjae. Atau panggil saja ia Eunhyuk. Eunhyuk kecil yang terkenal dengan gummy smilenya itu ikut berbaur dengan teman-teman sebayanya. Eunhyuk. Teman lama Donghae kecil.

Mereka lahir di rumah sakit yang sama. Tumbuh di lingkungan yang sama. Dan bersekolah di tempat yang sama. Ya. sebelum kecelakaan maut yang mereggut orang tua Donghae itu terjadi.

Donghae meremas ujung kain bajunya. Teman nya itu tak pernah lagi mau bermain dengannya. Tak pernah sekalipun mengajaknya bermain ataupun menyapanya. Itu yang Donghae tahu.

“Eunhyuk-ah…ayo, ikut ke rumahku.” Ajak Siwon. Salah satu anak yang ikut bermain bersama dengan Eunhyuk dan yang lain.

Cih.

Anak sok kaya itu. Dia selalu saja bisa membeli seseorang untuk dijadikan temannya. Dengan uangnya itu. Pikir Donghae.

Dia tahu, mungkin, ya mungkin pikirannya itu salah. Tapi kalau bukan karena Choi Siwon itu, Eunhyuk tidak mungkin kan meninggalkannya.

Beberapa kali sebelum akhirnya menerima Home Schooling, Donghae masih bersekolah di tempat yang lama. Donghae yang dulunya selalu ceria dan tak pernah berhenti bergerak, tiba-tiba saja berubah menjadi diam.

Keadannya kacau setelah kejadian itu. Satu saat ia bisa begitu ceria, tapi di satu titik ia bisa berubah menjadi pemurung. Terkadang ia bisa menangis meronta padahal sebelumnya ia tertawa dengan teman nya yang lain.

Tak ada seorang pun teman yang berani mendekati Donghae. Tidak. Dia tidak gila atau apa. Orang-orang disekitarnya pun tak tahu apa yang terjadi. Yang mereka tahu. Donghae mengalami trauma karena kehilangan pijakannya. Orang tuanya.

Donghae berubah.

Apa karena itu Eunhyuk meninggalkannya?

Disaat ia seharusnya memiliki tempat bersandar.

Sejak itu, Domghae selalu sendirian. Bahkan Eunhyuk, temannya itu tak mau melihatnya walau hanya sebentar.

“Eunhyuk-ah…kau melihatnya lagi?” Tanya Siwon. Menunjuk ke arah Donghae yang duduk di bangku paling belakang di kelas itu. Hanya tinggal mereka bertiga yang berada di dalam kelas. Ya, saat itu Donghae masih bersekolah di tempat yang sama dengan Eunhyuk dan Siwon.

“Ani.” Jawab Eunhyuk tegas yang di dengar Donghae di siang itu.

“Kajja.” Eunhyuk menggandeng tangan Siwon, wajahnya menggambarkan emosi yang tidak bisa di baca Donghae. Donghae tahu, Eunhyuk melihat mata itu, mata Donghae yang memelas penuh air mata padanya. Berharap untuk tidak ditingallkan.

Tapi Eunhyuk terus berlalu dari hadapan Donghae, meninggalkan Donghae seperti mainan yang tak diinginkan lagi.

Dan Donghae, hanya bisa mengulum ujung bajunya. Dengan tangan gemetar merapikan semua buku dan peralatan sekolahnya di tas meja. Memasukkannya ke dalam tas dan langsung berlari ke luar kelas sebelum air matanya turun lagi.

Menahan sakit.

 _haewook_

“Ijinkan aku…tinggal disini Ryeowook-ah.” Pinta Donghae memohon. Malam itu hujan turun dengan derasnya di luar pondok. Angin bertiup kencang. Daun-daun pepohonan saling bergesekan dengan latar langit berpendar karena petir. Langit seolah marah.

“Aku mohon…” Donghae meremas pergelangan tangan Ryeowook. Keras. Terbukti karena Ryeowook meringis kesakitan. “Jangan usir aku.”

Tak mau lagi kembali ke dunianya yang sebelumnya. Tak mau lagi merasa sendiri. Donghae berlutut dihadapan Ryeowook, menangis.

“Hyung…aku tidak pernah mengusirmu.” Ucap Ryeowook. Kaget dengan perkataan Donghae.

“Hyung…” Ryeowook membuat Donghae berdiri di depannya. “Aku akan membiarkan hyung tinggal disini bersamaku, aku malah senang karena ada hyung…” Ryeowook menatap langsung bola mata Donghae. Membuat Donghae lega dengan kata-katanya.

“Tapi….ada hal yang ingin aku perlihatkan padamu.” Ryeowook berbalik membelakangi Donghae. Ia ingin memperlihatkan sesuatu pada namja yang dipanggilnya hyung itu.

“Setelah ini, aku harap hyung bisa memutuskan apa masih ingin tinggal bersamaku…” Ryeowook tersenyum membuat Donghae melihatnya dengan pandangan penuh tanda tanya.

 _haewook_

This moment feels like I was born as a child who knew nothing
I closed my eyes again in case it would be a dream
You were standing in front of my desperate self and praying

Just once, I want to walk side by side with you

 _haewook_

TBC

 

8 thoughts on “Into The New World (Two Shot)

  1. kra2 pa yg mo d tnjkin wooki k donge..??pa teuki g nyriin donge..dia kan adik stu2nya msa ilng g cmas sh…. pnsran jga sm asl uslnya wooki..d tnggu lnjtannya…

  2. Aigoo…
    Uda lama gx n0ng0l
    Eh siy e0nnie publish ff bru.
    Sbner ny w0ok ppa sapa sich?
    K0q bnyk rahasia ny gtu?
    E0nnie lanjut ne
    Niy ff bgus
    D tunggu l0h😉

  3. uch.. TBC’nya bener2 muncul disaat yag sangat tepat T_T
    penasaran tuh apa yag pngn di tnjukin Wook ke Hae..
    gkgk~~ suka yah liat hae di siksa ma eonni :p
    tapi kasian juga sch #labil
    oh ya eon,, ff haewook yg dulu ga dilanjutin kah???
    q tunggu lanjutannya eonni ^^

  4. mengenaskan banget ya hidupnya Donghae… huhuhuhuhu… anak malang
    eh itu Ryeowook aslinya siapa ? apa Ryeowook itu mnausia jadi-jadian ? kkkkk
    siapapun Ryeowook, yang penting HaeWook tetep bersatu!
    pinter banget bikin orang penasaran ya… kkkkk

  5. apa kabar hyoraa..senang liat kamu bs update lagi ^^.
    siapa sbnrnya ryeowook?
    ada apa dlm kehidupan donghae?
    dan knp bs dia berada d hutan dgn pergelangan tangan terluka?
    bnyak pertanyaan yg msh mengganjal dn blm terungkap d chap ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s